![]() |
| Ketika Kepulangan Pengajar Agama Diantar Layaknya Keluarga Sendiri, Warga LDII Ngringo Tunjukkan Makna Pengabdian Tak Berakhir di Ruang Kelas |
Ratusan warga Pimpinan Anak Cabang (PAC) LDII Desa Ngringo mengantar kepulangan guru tugasan, Mas Anang Zulkarnain, menuju kampung halamannya di Bolakrejo, Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Minggu (5/7/2026). Suasana haru bercampur syukur mewarnai pelepasan yang dipusatkan di Masjid Al Amin, Jalan Gunungsari, Desa Ngringo.
Bagi warga, Mas Anang bukan sekadar pengajar yang menyelesaikan masa tugas, melainkan sosok pembimbing yang selama bertahun-tahun ikut membentuk karakter generasi muda melalui pembelajaran Al-Qur'an, Al-Hadis, dan pendidikan akhlak.
Prosesi pelepasan diawali dengan doa yang dipimpin Takmir Masjid Al Amin, Drs. H. Purwanto, sebelum rombongan bergerak menuju Wonogiri menggunakan mobil Elf, kendaraan pribadi, dan puluhan sepeda motor. Iring-iringan panjang tersebut berlangsung tertib dan penuh kekompakan.
Di balik nuansa haru, perjalanan juga dipenuhi suasana akrab. Canda tawa mengiringi perjalanan hingga beberapa warga berseloroh bahwa rombongan itu menyerupai iring-iringan hantaran lamaran karena begitu banyak orang yang ikut mengantar. Gurauan tersebut justru mencerminkan kedekatan emosional yang telah terbangun selama masa pengabdian sang guru.
![]() |
| Ketika Kepulangan Pengajar Agama Diantar Layaknya Keluarga Sendiri, Warga LDII Ngringo Tunjukkan Makna Pengabdian Tak Berakhir di Ruang Kelas |
Ketua PAC LDII Desa Ngringo, Adv. Drs. H. Suparman, S.H., BKP., menyampaikan apresiasi atas dedikasi Mas Anang dalam membina generasi penerus.
"Alhamdulillah, dedikasi Mas Anang sangat luar biasa. Beliau dengan sabar membimbing anak-anak mulai usia dini, praremaja hingga remaja. Yang dibangun bukan hanya kemampuan membaca Al-Qur'an dan memahami Al-Hadis, tetapi juga karakter disiplin, akhlakul karimah, dan tanggung jawab yang sangat dibutuhkan generasi muda saat ini," ujarnya.
Menurut Suparman, keberhasilan pembinaan tersebut tidak hanya terlihat dari peningkatan kemampuan keagamaan para santri, tetapi juga dari tumbuhnya sikap santun, kepedulian sosial, dan semangat belajar yang semakin baik.
Apresiasi juga datang dari para wali santri. Salah satunya, Suwardi, mengaku bersyukur atas kesabaran dan ketelatenan Mas Anang dalam mendampingi anak-anak di tengah tantangan perkembangan teknologi dan era digital.
"Membimbing anak-anak dan remaja saat ini tentu tidak mudah. Kami sangat berterima kasih atas ketulusan beliau. Semoga setiap ilmu yang telah diajarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir," ungkapnya.
Sesampainya di Jatisrono, rombongan menyerahkan Mas Anang kepada keluarga besarnya sebagai simbol berakhirnya masa penugasan sekaligus awal silaturahmi yang akan terus terjalin. Momen tersebut berlangsung hangat dan penuh keakraban.
Usai prosesi penyerahan, warga memanfaatkan perjalanan dengan singgah di kawasan wisata Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Kebersamaan berlanjut melalui kegiatan rekreasi sederhana, termasuk menikmati panorama waduk dan menaiki perahu wisata. Gelak tawa yang terdengar di tepian waduk menjadi penutup manis dari perjalanan yang sarat makna.
Perjalanan pulang itu bukan sekadar mengantar seseorang kembali ke kampung halaman. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi refleksi bahwa pendidikan sejati tidak berhenti di ruang belajar. Hubungan antara guru, santri, dan masyarakat dapat tumbuh menjadi ikatan kekeluargaan yang kuat ketika dibangun dengan ketulusan, pengabdian, dan nilai-nilai akhlak mulia.
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, tradisi mengantarkan guru hingga ke rumahnya menjadi pengingat bahwa penghormatan terhadap ilmu diwujudkan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui penghargaan kepada mereka yang dengan sabar menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus bangsa. (Ghoni)


0 Komentar