![]() |
| Mahasiswa Kesmas UNIVET BANTARA Lakukan Skrining Tuberkulosis di Desa Mojorejo, Siapkan Program Intervensi Berbasis Data |
Kegiatan yang menjadi bagian dari Praktik Belajar
Lapangan (PBL) I ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko Tuberkulosis
sekaligus mengumpulkan data sebagai dasar penyusunan program intervensi
kesehatan yang akan dilaksanakan pada PBL II.
Selama dua pekan pada Juni 2026, tujuh mahasiswa Prodi
Kesehatan Masyarakat diterjunkan ke lapangan dengan sasaran penderita
Tuberkulosis beserta kontak eratnya. Skrining dilakukan di empat dusun, yakni
Dusun Losari, Tempuk Rejo, Mojorejo, dan Dusun Masan.
Sebelum melakukan kegiatan lapangan, para mahasiswa
mengikuti orientasi di Puskesmas Bendosari yang dipimpin Kepala Puskesmas, dr.
Romdhon Nugroho. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh pembekalan
mengenai kondisi kesehatan wilayah, program pengendalian Tuberkulosis, serta
data dasar yang menjadi acuan pelaksanaan kegiatan.
Selama proses pendataan, mahasiswa didampingi kader
kesehatan di masing-masing dusun. Kehadiran kader dinilai sangat membantu dalam
membangun komunikasi dengan masyarakat, mengidentifikasi responden, sekaligus
meningkatkan partisipasi warga selama kegiatan berlangsung.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung,
observasi lingkungan, serta pencatatan informasi mengenai riwayat pengobatan
Tuberkulosis, kondisi tempat tinggal, faktor risiko penularan, hingga
keberadaan kontak erat penderita TBC.
Dosen Pembimbing PBL I, Titik Haryanti,
mengatakan kegiatan mahasiswa tidak hanya berfokus pada pendataan, tetapi juga
memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai gejala Tuberkulosis, pentingnya
deteksi dini, kepatuhan menjalani pengobatan hingga tuntas, serta
langkah-langkah pencegahan penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
"Mahasiswa tidak hanya melakukan skrining, tetapi
juga memberikan edukasi agar masyarakat semakin memahami pentingnya pemeriksaan
kesehatan sejak dini dan menyelesaikan pengobatan hingga tuntas sebagai upaya
memutus rantai penularan Tuberkulosis," ujarnya.
Menurut Titik, keberhasilan penyusunan program
intervensi kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan hasil pengumpulan data.
Keterlibatan pemerintah desa menjadi faktor penting dalam menentukan prioritas
permasalahan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
"Pelibatan pemerintah desa sangat penting dalam
menentukan prioritas masalah berdasarkan data yang telah diperoleh. Dengan
demikian, program yang akan disusun benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat dan
memiliki peluang lebih besar untuk berhasil ketika diimplementasikan pada
kegiatan PBL II," jelasnya.
Sementara itu, Bidan Desa Mojorejo, Ria Juniarti,
yang turut mendampingi mahasiswa di lapangan, memberikan gambaran mengenai
kondisi kesehatan masyarakat, karakteristik lingkungan desa, serta sebaran
penderita Tuberkulosis di wilayah tersebut.
Menurutnya, informasi tersebut menjadi pelengkap yang
sangat penting dalam membantu mahasiswa menentukan tingkat urgensi berbagai
persoalan kesehatan yang ditemukan selama proses skrining.
"Data mengenai kondisi lingkungan, sebaran
penderita TBC, serta karakteristik masyarakat Desa Mojorejo menjadi pelengkap
hasil pengumpulan data lapangan sehingga mahasiswa dapat menentukan prioritas
masalah secara lebih tepat," ungkap Ria.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Mojorejo.
Sekretaris Desa, Sunarti, S.E., menyampaikan bahwa tantangan
utama dalam pelaksanaan program kesehatan selama ini adalah masih rendahnya
kehadiran masyarakat pada kegiatan yang bersifat khusus karena kesibukan warga.
Ia menyarankan agar program intervensi yang akan
dilaksanakan mahasiswa nantinya dipadukan dengan agenda rutin desa, seperti
pertemuan PKK, kader kesehatan, maupun perangkat desa sehingga partisipasi
masyarakat dapat lebih optimal.
"Kami berharap kegiatan mahasiswa nantinya dapat
menyesuaikan dengan agenda rutin masyarakat sehingga partisipasi warga menjadi
lebih optimal dan program yang dilaksanakan benar-benar memberikan manfaat bagi
masyarakat," kata Sunarti.
Selanjutnya, seluruh data hasil skrining akan dianalisis
untuk mengidentifikasi masalah kesehatan prioritas. Berdasarkan hasil analisis
tersebut, mahasiswa akan menyusun Plan of Action (POA) sebagai
pedoman pelaksanaan program intervensi kesehatan pada PBL II yang diharapkan
mampu mendukung upaya pengendalian Tuberkulosis di Desa Mojorejo.
Melalui kegiatan Praktik Belajar Lapangan I ini, mahasiswa Prodi Kesehatan
Masyarakat FKMIK UNIVET BANTARA tidak hanya memperoleh pengalaman belajar
secara langsung di tengah masyarakat, tetapi juga memperkuat kolaborasi dengan
Puskesmas Bendosari, Pemerintah Desa Mojorejo, serta kader kesehatan. Sinergi
antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat
diharapkan mampu menghasilkan program intervensi yang berbasis data, tepat
sasaran, dan berkelanjutan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
sekaligus memperkuat upaya pengendalian Tuberkulosis di tingkat desa. (Begug SW)

0 Komentar