Mahasiswa Kesmas UNIVET BANTARA Lakukan Skrining Tuberkulosis di Desa Mojorejo, Siapkan Program Intervensi Berbasis Data

Mahasiswa Kesmas UNIVET BANTARA Lakukan Skrining Tuberkulosis di Desa Mojorejo, Siapkan Program Intervensi Berbasis Data
Sukoharjo, mitrapolrinews.com – Upaya pengendalian Tuberkulosis (TBC) memerlukan deteksi dini agar penularan dapat dicegah sejak awal. Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat, Ilmu Kesehatan, dan Matematika (FKMIK) Universitas Veteran Bangun Nusantara (UNIVET BANTARA) Sukoharjo melaksanakan kegiatan skrining Tuberkulosis di Desa Mojorejo, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Selasa (30/6/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari Praktik Belajar Lapangan (PBL) I ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko Tuberkulosis sekaligus mengumpulkan data sebagai dasar penyusunan program intervensi kesehatan yang akan dilaksanakan pada PBL II.

Selama dua pekan pada Juni 2026, tujuh mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat diterjunkan ke lapangan dengan sasaran penderita Tuberkulosis beserta kontak eratnya. Skrining dilakukan di empat dusun, yakni Dusun Losari, Tempuk Rejo, Mojorejo, dan Dusun Masan.

Sebelum melakukan kegiatan lapangan, para mahasiswa mengikuti orientasi di Puskesmas Bendosari yang dipimpin Kepala Puskesmas, dr. Romdhon Nugroho. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh pembekalan mengenai kondisi kesehatan wilayah, program pengendalian Tuberkulosis, serta data dasar yang menjadi acuan pelaksanaan kegiatan.

Selama proses pendataan, mahasiswa didampingi kader kesehatan di masing-masing dusun. Kehadiran kader dinilai sangat membantu dalam membangun komunikasi dengan masyarakat, mengidentifikasi responden, sekaligus meningkatkan partisipasi warga selama kegiatan berlangsung.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung, observasi lingkungan, serta pencatatan informasi mengenai riwayat pengobatan Tuberkulosis, kondisi tempat tinggal, faktor risiko penularan, hingga keberadaan kontak erat penderita TBC.

Dosen Pembimbing PBL I, Titik Haryanti, mengatakan kegiatan mahasiswa tidak hanya berfokus pada pendataan, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai gejala Tuberkulosis, pentingnya deteksi dini, kepatuhan menjalani pengobatan hingga tuntas, serta langkah-langkah pencegahan penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

"Mahasiswa tidak hanya melakukan skrining, tetapi juga memberikan edukasi agar masyarakat semakin memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini dan menyelesaikan pengobatan hingga tuntas sebagai upaya memutus rantai penularan Tuberkulosis," ujarnya.

Menurut Titik, keberhasilan penyusunan program intervensi kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan hasil pengumpulan data. Keterlibatan pemerintah desa menjadi faktor penting dalam menentukan prioritas permasalahan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

"Pelibatan pemerintah desa sangat penting dalam menentukan prioritas masalah berdasarkan data yang telah diperoleh. Dengan demikian, program yang akan disusun benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat dan memiliki peluang lebih besar untuk berhasil ketika diimplementasikan pada kegiatan PBL II," jelasnya.

Sementara itu, Bidan Desa Mojorejo, Ria Juniarti, yang turut mendampingi mahasiswa di lapangan, memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan masyarakat, karakteristik lingkungan desa, serta sebaran penderita Tuberkulosis di wilayah tersebut.

Menurutnya, informasi tersebut menjadi pelengkap yang sangat penting dalam membantu mahasiswa menentukan tingkat urgensi berbagai persoalan kesehatan yang ditemukan selama proses skrining.

"Data mengenai kondisi lingkungan, sebaran penderita TBC, serta karakteristik masyarakat Desa Mojorejo menjadi pelengkap hasil pengumpulan data lapangan sehingga mahasiswa dapat menentukan prioritas masalah secara lebih tepat," ungkap Ria.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Mojorejo. Sekretaris Desa, Sunarti, S.E., menyampaikan bahwa tantangan utama dalam pelaksanaan program kesehatan selama ini adalah masih rendahnya kehadiran masyarakat pada kegiatan yang bersifat khusus karena kesibukan warga.

Ia menyarankan agar program intervensi yang akan dilaksanakan mahasiswa nantinya dipadukan dengan agenda rutin desa, seperti pertemuan PKK, kader kesehatan, maupun perangkat desa sehingga partisipasi masyarakat dapat lebih optimal.

"Kami berharap kegiatan mahasiswa nantinya dapat menyesuaikan dengan agenda rutin masyarakat sehingga partisipasi warga menjadi lebih optimal dan program yang dilaksanakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," kata Sunarti.

Selanjutnya, seluruh data hasil skrining akan dianalisis untuk mengidentifikasi masalah kesehatan prioritas. Berdasarkan hasil analisis tersebut, mahasiswa akan menyusun Plan of Action (POA) sebagai pedoman pelaksanaan program intervensi kesehatan pada PBL II yang diharapkan mampu mendukung upaya pengendalian Tuberkulosis di Desa Mojorejo.

Melalui kegiatan Praktik Belajar Lapangan I ini, mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat FKMIK UNIVET BANTARA tidak hanya memperoleh pengalaman belajar secara langsung di tengah masyarakat, tetapi juga memperkuat kolaborasi dengan Puskesmas Bendosari, Pemerintah Desa Mojorejo, serta kader kesehatan. Sinergi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan mampu menghasilkan program intervensi yang berbasis data, tepat sasaran, dan berkelanjutan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat upaya pengendalian Tuberkulosis di tingkat desa. (Begug SW)

0 Komentar