![]() |
| Dari Pondok Pesantren Baitul Izza, Gerakan Perempuan Berilmu dan Beradab Terus Digelorakan |
Ketua yayasan Baitul Izza, H. Kardi Zicko, dalam sambutannya menyampaikan
apresiasi atas tingginya partisipasi peserta. Ia menilai kajian ini menjadi
wadah penting dalam membangun kualitas perempuan, khususnya dalam menguatkan
ilmu dan akhlak. “Kami berharap kegiatan ini terus istiqamah dan mampu
melahirkan perempuan-perempuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak
mulia serta memberi manfaat bagi keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Dalam kajian tersebut, pemateri menekankan pentingnya keseimbangan antara
ilmu dan adab bagi perempuan, sejalan dengan semangat emansipasi yang
diwariskan Raden Ajeng Kartini. Dyah Puspitarini menyebut fenomena pemisahan
antara kecerdasan dan kesantunan sebagai persoalan yang kian nyata. “Banyak
yang pintar secara akademis, tetapi miskin adab. Atau sebaliknya, rajin ibadah
tapi tidak mendalami ilmu,” ujarnya.
![]() |
| Dari Pondok Pesantren Baitul Izza, Gerakan Perempuan Berilmu dan Beradab Terus Digelorakan |
Materi inti disampaikan dalam dua sesi. Miftahulati mengulas urgensi
menuntut ilmu bagi perempuan, sementara Dyah Puspitarini membahas adab terhadap
orang tua, suami, dan sesama manusia. Ia juga mencontohkan keteladanan Aisyah
serta para sahabat perempuan dalam menuntut ilmu dan menjaga akhlak.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang diikuti
antusias oleh peserta. Beragam pertanyaan muncul, mulai dari cara membagi waktu
antara pekerjaan dan rumah tangga hingga upaya menjaga diri dari pergaulan
bebas. Sejumlah peserta tampak mencatat materi, bahkan ada yang terharu saat
mendengar kisah inspiratif yang disampaikan.
Kajian ini merupakan agenda rutin bulanan yang konsisten digelar di lokasi
yang sama. Menurut panitia, pemilihan Masjid Baitul Izza sebagai tempat tetap
bertujuan membangun kenyamanan dan kebiasaan positif di kalangan peserta.
Salah satu peserta, Evhi (37), mengaku memperoleh pemahaman baru terkait
pentingnya mendahulukan adab sebelum ilmu. Dampak kegiatan juga mulai dirasakan
di lingkungan peserta, di antaranya berkurangnya kebiasaan menggunjing serta
meningkatnya minat mengikuti pengajian.
![]() |
| Dari Pondok Pesantren Baitul Izza, Gerakan Perempuan Berilmu dan Beradab Terus Digelorakan |
Ke depan, panitia berencana mengembangkan program melalui pembentukan
kelompok mentoring kecil (halaqah) dan penyusunan modul kajian tematik. Upaya
ini dilakukan untuk memperdalam pemahaman peserta secara berkelanjutan.
Dalam penutup kegiatan, Dyah Puspitarini berharap kajian ini dapat
berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Ia menegaskan pentingnya perempuan
terus menuntut ilmu, karena tanpa itu, perempuan berpotensi disibukkan oleh
hal-hal yang kurang bermanfaat.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda rutin semata, tetapi juga
mampu menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya ilmu dan adab dalam
kehidupan perempuan. Dengan semangat Hari Kartini, kajian yang digelar oleh
Yayasan Baitul Izza ini diharapkan terus melahirkan generasi perempuan yang
berilmu, berakhlak mulia, serta mampu memberi kontribusi nyata bagi keluarga
dan masyarakat. (Red)



0 Komentar