![]() |
| Kartini Masa Kini Tetap Mengabdi: Kiprah Humanis Hj. Endang Maria Astuti Tak Pernah Surut |
Selama dua periode di Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (2014–2024), Endang tak sekadar menjadi
legislator. Ia hadir sebagai representasi suara bagi kelompok rentan—perempuan,
anak, dan masyarakat marginal.
Dari
Dunia Pendidikan ke Panggung Kebijakan
Lahir di Wonogiri pada 16 April
1966, perjalanan Endang dibangun dari proses panjang. Ia mengabdikan diri
sebagai guru di SMK Sudirman 1 Wonogiri selama lebih dari dua dekade. Dari
ruang kelas, ia menyerap langsung berbagai persoalan sosial yang dihadapi
masyarakat.
Pengalaman tersebut membentuk
karakter kepemimpinannya yang berbasis empati. Baginya, kebijakan publik harus
berpijak pada realitas, bukan sekadar konsep.
Bekal akademiknya di bidang agama
dan hukum turut memperkuat cara pandangnya—menggabungkan nilai moral dengan
ketegasan regulasi dalam setiap langkah pengabdian.
Tegas
Membela Perempuan dan Anak
Saat bertugas di Komisi VIII DPR RI,
Endang dikenal vokal dalam isu perlindungan perempuan dan anak. Ia secara
konsisten menolak praktik pernikahan usia dini, dengan menekankan pentingnya
masa tumbuh kembang anak yang sehat dan berkualitas.
Ia juga aktif memperjuangkan hak
identitas bagi anak-anak terlantar, mendorong kemudahan akses administrasi
kependudukan agar setiap anak memiliki pengakuan hukum yang jelas.
Dalam isu kesejahteraan sosial, ia
mengawal transparansi bantuan sosial agar tepat sasaran dan benar-benar dirasakan
oleh masyarakat yang membutuhkan.
Pengabdian
Tak Berhenti di Kursi Parlemen
Meski kini tidak lagi menjabat
sebagai anggota DPR RI, semangat pengabdian Endang tidak surut. Ia tetap aktif
dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan.
Melalui Sekolah Tinggi Agama Islam
Mulia Astuti (STAIMAS Wonogiri), ia berperan dalam pengembangan pendidikan
berbasis nilai keislaman dan pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, melalui Yayasan Karya
Emas Center (YKEC), Endang aktif melakukan pendampingan terhadap perempuan dan
anak, serta terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Peran ini
menunjukkan komitmennya yang berkelanjutan dalam memperjuangkan kelompok rentan
di luar jalur formal politik.
Menjaga
Keseimbangan dan Nilai Kehidupan
Di tengah aktivitasnya, Endang tetap
memegang prinsip keseimbangan antara peran publik dan keluarga. Ia meyakini
bahwa kekuatan seorang perempuan tidak hanya terletak pada capaian profesional,
tetapi juga pada kemampuannya menjaga harmoni dalam kehidupan pribadi.
Filosofi ini mencerminkan esensi
Kartini modern—maju tanpa meninggalkan nilai.
Dedikasi
yang Mendapat Pengakuan
Atas kiprahnya, Endang menerima
berbagai penghargaan, di antaranya:
- Citra Wanita Kartini (2011)
- Indonesia Women Career of the Year (2015, 2016)
- Women of the Year (2017)
Hj. Endang Maria Astuti membuktikan
bahwa pengabdian tidak mengenal batas jabatan. Dari parlemen hingga dunia pendidikan dan sosial, ia terus melanjutkan
perjuangan—menjadi suara bagi yang lemah, serta harapan bagi masa depan yang
lebih adil dan berkeadilan. (Tarmin)

0 Komentar