Kartini Masa Kini Tetap Mengabdi: Kiprah Humanis Hj. Endang Maria Astuti Tak Pernah Surut

Kartini Masa Kini Tetap Mengabdi: Kiprah Humanis Hj. Endang Maria Astuti Tak Pernah Surut
Wonogiri, 17 April 2026, Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini terus hidup dan menemukan relevansinya di berbagai zaman. Di era modern, nilai-nilai tersebut tercermin dalam sosok Endang Maria Astuti, figur perempuan asal Wonogiri yang dikenal konsisten memperjuangkan isu kemanusiaan, bahkan setelah tidak lagi menjabat di parlemen.

Selama dua periode di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (2014–2024), Endang tak sekadar menjadi legislator. Ia hadir sebagai representasi suara bagi kelompok rentan—perempuan, anak, dan masyarakat marginal.

Dari Dunia Pendidikan ke Panggung Kebijakan

Lahir di Wonogiri pada 16 April 1966, perjalanan Endang dibangun dari proses panjang. Ia mengabdikan diri sebagai guru di SMK Sudirman 1 Wonogiri selama lebih dari dua dekade. Dari ruang kelas, ia menyerap langsung berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Pengalaman tersebut membentuk karakter kepemimpinannya yang berbasis empati. Baginya, kebijakan publik harus berpijak pada realitas, bukan sekadar konsep.

Bekal akademiknya di bidang agama dan hukum turut memperkuat cara pandangnya—menggabungkan nilai moral dengan ketegasan regulasi dalam setiap langkah pengabdian.

Tegas Membela Perempuan dan Anak

Saat bertugas di Komisi VIII DPR RI, Endang dikenal vokal dalam isu perlindungan perempuan dan anak. Ia secara konsisten menolak praktik pernikahan usia dini, dengan menekankan pentingnya masa tumbuh kembang anak yang sehat dan berkualitas.

Ia juga aktif memperjuangkan hak identitas bagi anak-anak terlantar, mendorong kemudahan akses administrasi kependudukan agar setiap anak memiliki pengakuan hukum yang jelas.

Dalam isu kesejahteraan sosial, ia mengawal transparansi bantuan sosial agar tepat sasaran dan benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.

Pengabdian Tak Berhenti di Kursi Parlemen

Meski kini tidak lagi menjabat sebagai anggota DPR RI, semangat pengabdian Endang tidak surut. Ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan.

Melalui Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS Wonogiri), ia berperan dalam pengembangan pendidikan berbasis nilai keislaman dan pemberdayaan masyarakat.

Selain itu, melalui Yayasan Karya Emas Center (YKEC), Endang aktif melakukan pendampingan terhadap perempuan dan anak, serta terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Peran ini menunjukkan komitmennya yang berkelanjutan dalam memperjuangkan kelompok rentan di luar jalur formal politik.

Menjaga Keseimbangan dan Nilai Kehidupan

Di tengah aktivitasnya, Endang tetap memegang prinsip keseimbangan antara peran publik dan keluarga. Ia meyakini bahwa kekuatan seorang perempuan tidak hanya terletak pada capaian profesional, tetapi juga pada kemampuannya menjaga harmoni dalam kehidupan pribadi.

Filosofi ini mencerminkan esensi Kartini modern—maju tanpa meninggalkan nilai.

Dedikasi yang Mendapat Pengakuan

Atas kiprahnya, Endang menerima berbagai penghargaan, di antaranya:
  • Citra Wanita Kartini (2011)
  • Indonesia Women Career of the Year (2015, 2016)
  • Women of the Year (2017)
Penghargaan tersebut menjadi bukti konsistensinya dalam mengabdi di bidang kemanusiaan dan pemberdayaan perempuan.

Hj. Endang Maria Astuti membuktikan bahwa pengabdian tidak mengenal batas jabatan. Dari parlemen hingga dunia pendidikan dan sosial, ia terus melanjutkan perjuangan—menjadi suara bagi yang lemah, serta harapan bagi masa depan yang lebih adil dan berkeadilan. (Tarmin)

 

0 Komentar