![]() |
| Takwa Bukan Sekadar Ibadah, Ini Ciri-Ciri Orang yang Dijanjikan Surga |
Pesan tersebut mengemuka dalam kajian Rabu sore yang digelar di Masjid Al-Falah, Madyorejo, Jetis, Sukoharjo, Rabu (9/9/2026). Kajian menghadirkan Ustadz Drs. H. Suroto dengan mengangkat tema “Orang Bertakwa Tempatnya Surga dan Ciri-Cirinya”.
Kajian tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan ilmu dan pemahaman keagamaan jamaah. Tidak hanya membahas akidah dan ibadah, kegiatan itu juga mengupas akhlak serta tata kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Islam. Pemahaman keagamaan yang benar dinilai penting agar masyarakat tidak terjebak pada pemahaman yang keliru mengenai hukum maupun nilai-nilai agama.
Dalam kajiannya, Ustadz Suroto menjelaskan bahwa orang bertakwa memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Bahkan, surga telah dijanjikan sebagai tempat kembali bagi mereka. Hal tersebut salah satunya ditegaskan dalam Surah Ali 'Imran ayat 133, yang menyebutkan bahwa surga seluas langit dan bumi disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
“Ciri-ciri orang bertakwa secara garis besar dapat kita lihat dalam Surah Ali 'Imran ayat 134-135 dan Surah Al-Baqarah ayat 3-4,” jelasnya.
Salah satu ciri tersebut adalah gemar berinfak. Orang bertakwa tidak menjadikan kondisi ekonomi sebagai alasan untuk berbagi. Mereka tetap bersedia membelanjakan hartanya di jalan Allah, baik ketika berada dalam kondisi lapang maupun sempit.
“Bersedekah tidak harus menunggu kaya,” tegasnya.
Selain itu, orang bertakwa mampu menahan amarah. Ketika menghadapi situasi yang memancing emosi, mereka tidak serta-merta meluapkannya. Sebaliknya, amarah dikendalikan sebagai bentuk upaya mencari rida Allah SWT.
Tak berhenti di situ. Orang bertakwa juga memiliki sifat pemaaf. Mereka tidak hanya mampu menahan kemarahan, tetapi juga berusaha menghapus dendam dan memberikan maaf kepada orang lain.
Ciri berikutnya adalah segera bertobat ketika melakukan dosa. Menurut Ustadz Suroto, manusia bukan makhluk yang terbebas dari kesalahan. Namun, orang bertakwa memiliki kesadaran untuk segera mengingat Allah ketika melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri.
Mereka kemudian memohon ampun melalui istighfar dan berusaha tidak mengulangi kesalahan tersebut.
“Orang bertakwa bukan berarti manusia yang maksum atau bebas dari dosa. Ketika khilaf, mereka segera sadar, memohon ampun kepada Allah dan berusaha tidak mengulanginya,” imbuhnya.
Selain aspek akhlak, ketakwaan juga ditandai dengan keimanan kepada perkara gaib. Di antaranya meyakini keberadaan Allah SWT, malaikat, hari akhir, surga, dan neraka sebagaimana yang telah dikabarkan dalam Al-Qur'an dan hadis.
Orang bertakwa juga mendirikan salat dan menunaikan zakat. Salat menjadi bentuk menjaga hubungan dengan Allah SWT (hablum minallah), sedangkan zakat menjadi salah satu wujud kepedulian terhadap sesama (hablum minannas).
“Salat harus dijaga dengan baik, demikian pula zakat. Keduanya menjadi bagian penting dalam membangun hubungan dengan Allah sekaligus hubungan dengan sesama manusia,” pungkasnya.
Kajian rutin tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman secara teori. Lebih jauh, materi yang disampaikan dapat menjadi pengingat bagi jamaah untuk menjadikan ketakwaan sebagai bagian dari perilaku sehari-hari, baik dalam beribadah maupun bermuamalah dengan sesama. (Begug SW)

0 Komentar