![]() |
| Bunda Lisdyarita Apresiasi Kreativitas Siswa SMKN 2 Ponorogo, Produk Pameran Ikut Diborong |
Kunjungan tersebut tak sekadar
melihat-lihat. Bunda Lisdyarita berdialog langsung dengan siswa dan guru
pendamping. Satu per satu produk hasil praktik kejuruan diperkenalkan. Mulai
karya Tata Kecantikan Kulit dan Rambut, Kuliner, TKJ, Perhotelan, Usaha Layanan
Wisata, hingga Desain dan Produksi Busana.
Apresiasi pun ditunjukkan secara
langsung. Bunda Lisdyarita bahkan memborong sejumlah produk karya siswa SMKN 2
Ponorogo yang dipamerkan di stand tersebut.
Momen itu menjadi penyemangat
tersendiri bagi para siswa. Sebab, karya yang selama ini lahir dari proses
pembelajaran di sekolah mendapat kesempatan untuk diapresiasi langsung oleh
pimpinan daerah.
![]() |
| Bunda Lisdyarita Apresiasi Kreativitas Siswa SMKN 2 Ponorogo, Produk Pameran Ikut Diborong |
“Semoga dengan adanya Ponorogo City
Expo ini, semangat berkarya pelajar dan pelaku UMKM semakin tumbuh, dan
perekonomian masyarakat Ponorogo pun ikut terangkat,” ungkapnya.
Ponorogo City Expo 2026 sendiri
resmi dibuka pada Jumat (4/9) malam di Alun-Alun Ponorogo. Gelaran yang menjadi
bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-530 Kabupaten Ponorogo tersebut berlangsung
hingga 13 September 2026.
Tidak hanya menghadirkan hiburan dan
berbagai kegiatan masyarakat, PCE 2026 juga menjadi etalase bagi lembaga
pendidikan untuk memperkenalkan potensi dan karya terbaik kepada masyarakat.
![]() |
| Bunda Lisdyarita Apresiasi Kreativitas Siswa SMKN 2 Ponorogo, Produk Pameran Ikut Diborong |
Siswa juga didorong untuk mampu berkarya,
berinovasi, berwirausaha, serta menghasilkan produk yang memiliki nilai manfaat
dan nilai ekonomi.
Kepala SMKN 2 Ponorogo Suryanto,
M.Pd., mengatakan keikutsertaan sekolah dalam PCE 2026 menjadi kesempatan
strategis untuk memperkenalkan kompetensi dan kreativitas siswa kepada
masyarakat luas.
“Kami ingin menunjukkan bahwa siswa
SMK tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu menghasilkan karya dan
inovasi. Melalui pameran ini, masyarakat dapat melihat secara langsung potensi
siswa SMKN 2 Ponorogo sekaligus semangat sekolah dalam menyiapkan generasi yang
kompeten, kreatif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja,” ujarnya.
Menurut Suryanto, kegiatan pameran
memberikan pengalaman pembelajaran yang berbeda bagi siswa. Mereka tidak hanya
dituntut mampu menghasilkan produk, tetapi juga belajar bagaimana
mempresentasikan karya di hadapan masyarakat.
“Ini juga menjadi pembelajaran nyata
bagi siswa. Mereka belajar bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat,
memperkenalkan produk, dan memahami bahwa sebuah karya harus mampu memberikan
nilai dan manfaat,” imbuhnya.
![]() |
| Bunda Lisdyarita Apresiasi Kreativitas Siswa SMKN 2 Ponorogo, Produk Pameran Ikut Diborong |
“Bagi SMKN 2 Ponorogo, keikutsertaan
dalam PCE 2026 bukan sekadar agenda pameran. Ini menjadi kesempatan membawa
proses pembelajaran vokasi ke ruang publik sekaligus menunjukkan kepada
masyarakat bahwa karya siswa SMK mampu tumbuh, berinovasi, dan memiliki nilai
ekonomi,” jelasnya.
Di area expo, siswa juga mendapat
kesempatan berinteraksi langsung dengan pengunjung. Mereka menjelaskan produk,
menjawab pertanyaan, hingga memperkenalkan keunggulan karya yang dihasilkan
melalui pembelajaran berbasis praktik.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting
dalam pembentukan karakter siswa. Sebab, kompetensi vokasi tidak hanya diukur
dari kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, melayani konsumen,
bekerja sama, dan membaca peluang.
SMKN 2 Ponorogo sendiri memiliki
enam konsentrasi keahlian. Yakni Kuliner, Desain dan Produksi Busana, Tata
Kecantikan Kulit dan Rambut, Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TKJ),
Perhotelan, serta Usaha Layanan Pariwisata.
Dengan penguatan karakter,
kewirausahaan, kompetensi keahlian, adaptasi terhadap perkembangan teknologi,
serta kepedulian terhadap lingkungan, SMKN 2 Ponorogo terus mendorong peserta
didik agar tidak hanya menjadi lulusan yang siap kerja.
Namun juga siap berkarya,
berinovasi, menciptakan peluang, dan memiliki daya saing di tengah perubahan
zaman.
Di PCE 2026, karya siswa itu
akhirnya tidak hanya berhenti di ruang kelas. Ia tampil di ruang publik,
bertemu masyarakat, mendapat apresiasi, bahkan diborong pimpinan daerah.
Sebuah bukti bahwa ketika kreativitas
siswa diberi panggung, karya SMK pun mampu menjadi bagian dari denyut ekonomi
dan kebanggaan daerah. (red)




0 Komentar