Kajian Ahad di Masjid Al-Falah Sukoharjo: Ustadz Ihsan Saifudin Ajak Jamaah Membangun “Sejarah Hidup yang Baik”

Kajian Ahad di Masjid Al-Falah Sukoharjo: Ustadz Ihsan Saifudin Ajak Jamaah Membangun “Sejarah Hidup yang Baik”
Sukoharjo, mitrapolrinews.com – Upaya memperkuat pemahaman keislaman dan menanamkan nilai-nilai akhlak mulia terus dilakukan melalui berbagai kegiatan keagamaan di tengah masyarakat. Salah satunya melalui kajian rutin Ahad yang digelar di Masjid Al-Falah, Jalan Semeru No. 13B, Kampung Madyorejo RT 01 RW 07, Jetis, Sukoharjo, Ahad (7/6/2026) selepas Magrib hingga Isya.

Kegiatan yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan tersebut dibuka oleh Muh Anis. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh peserta untuk senantiasa bersyukur atas nikmat kesehatan dan kesempatan yang diberikan Allah SWT sehingga dapat menghadiri majelis ilmu.

“Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman,” ujarnya sebelum mengawali kajian dengan bacaan Basmalah bersama.

Pada kesempatan tersebut, kajian disampaikan oleh Ustadz Ihsan Saifudin dengan tema “Membangun Sejarah Hidup yang Baik”. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa setiap Muslim hendaknya berupaya meninggalkan jejak kehidupan yang bermanfaat dan dikenang dengan kebaikan oleh generasi setelahnya.

Menurutnya, konsep tersebut merujuk pada doa Nabi Ibrahim AS dalam QS. Asy-Syu’ara ayat 84:

"Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian."

“Ayat ini merupakan doa yang sangat agung. Nabi Ibrahim AS memohon kepada Allah agar diberikan kenangan, reputasi, dan warisan kebaikan yang terus hidup di tengah umat manusia setelah beliau wafat,” jelasnya.

Hakikat “Lisaanash Shidq”

Ustadz Ihsan menjelaskan, dalam Tafsir Al-Wajiz karya Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, istilah lisaanash shidq dimaknai sebagai pujian yang baik dan kesan indah yang ditinggalkan seseorang setelah meninggal dunia.

Nabi Ibrahim AS, lanjutnya, memohon agar perjuangan beliau dalam menegakkan tauhid, dakwah, dan kebaikan terus dikenang serta dijadikan teladan hingga hari kiamat.

“Sejarah hidup yang baik bukan diukur dari seberapa terkenal seseorang atau seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi dari manfaat yang ditinggalkan serta amal saleh yang terus memberikan kebaikan bagi orang lain,” terangnya.

Langkah Membangun Warisan Kebaikan

Dalam kajian tersebut, Ustadz Ihsan memaparkan sejumlah prinsip untuk mewujudkan lisaanash shidq atau warisan nama baik yang bernilai dunia dan akhirat.

Pertama, memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah yang istiqamah dan ketaatan yang konsisten. Kedua, memberikan manfaat nyata kepada sesama sebagai wujud hubungan sosial yang baik (habluminannas).

“Sejarah terbaik ditulis oleh mereka yang menghadirkan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan di sekitarnya,” katanya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga akhlakul karimah, seperti kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan dapat dipercaya dalam setiap aspek kehidupan.

Tidak kalah penting, umat Islam juga didorong untuk menebarkan ilmu dan berbagai bentuk kebaikan yang manfaatnya terus mengalir sebagai amal jariyah.

“Ilmu yang bermanfaat, karya yang memberi maslahat, maupun berbagai amal kebajikan akan menjadi investasi akhirat yang pahalanya tetap mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia,” tambahnya.

Meneladani Doa Nabi Ibrahim AS

Lebih lanjut, Ustadz Ihsan menjelaskan bahwa ayat 84 merupakan bagian dari rangkaian doa Nabi Ibrahim AS pada ayat 83 hingga 85 yang mencakup permohonan ilmu dan hikmah, harapan untuk dikumpulkan bersama orang-orang saleh, menjadi teladan bagi generasi berikutnya, serta memperoleh kenikmatan surga.

Menurutnya, rangkaian doa tersebut memberikan pelajaran bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan duniawi, tetapi juga oleh kualitas iman, ilmu, akhlak, dan kontribusi yang diberikan kepada umat.

Mengakhiri kajian, ia mengajak jamaah untuk terus berikhtiar memperbaiki diri dan memperbanyak amal kebaikan agar meninggalkan kenangan yang baik di tengah masyarakat.

“Sejarah hidup yang baik adalah sejarah yang ditulis dengan tinta ketaatan, ketulusan, dan manfaat bagi sesama. Ketika seseorang wafat, yang tersisa bukan hanya namanya, tetapi juga doa dan kenangan baik yang terus hidup di hati orang-orang yang mengenalnya,” pungkasnya.

Kajian Ahad rutin di Masjid Al-Falah tersebut diharapkan menjadi sarana memperdalam pemahaman agama sekaligus memperkuat karakter masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.  (Begug SW)

0 Komentar