Kajian Ahad ke-5 di Sukoharjo Angkat Tema Pengenalan KHGT, Dorong Persatuan Kalender Islam Global

Kajian Ahad ke-5 di Sukoharjo Angkat Tema Pengenalan KHGT, Dorong Persatuan Kalender Islam Global
Sukoharjo, mitrapolrinews.com - Kajian Ahad ke-5 yang digelar ba’da Magrib mengawali bulan Syawal berlangsung di Masjid Al-Falah, Madyorejo RT 01 RW 07, Jetis, Sukoharjo, Ahad (29/03/2026).

Ketua Takmir Masjid Al-Falah, Ir. H. Rudy Setyohadi melalui Bidang Dakwah dan Pendidikan, Muh. Anis, S.Pd., menyampaikan bahwa kajian kali ini menghadirkan Ustadz Bimawan Syamsudin, S.P., dengan mengangkat tema “Mengenal KHGT – Kalender Hijriyah Global Tunggal” sebagai pembuka kegiatan di bulan Syawal.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Bimawan menjelaskan bahwa KHGT merupakan sistem kalender Islam yang menetapkan satu tanggal hijriah yang sama untuk seluruh dunia, dengan prinsip satu dunia, satu hari, satu tanggal. Konsep ini diharapkan mampu menyatukan umat Islam dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan serta hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

“Selama ini perbedaan terjadi karena metode yang beragam, baik rukyat maupun hisab lokal dengan kriteria yang berbeda antarnegara,” jelasnya.

KHGT menggunakan prinsip matla’ global (wilayatul hukmi), di mana jika hilal terlihat di satu titik di bumi, maka berlaku untuk seluruh dunia. Sistem ini juga mengacu pada kriteria imkanur rukyat berbasis perhitungan ilmiah astronomi modern.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dasar KHGT mencakup dalil syar’i dan ilmiah. Secara syar’i, hadis Nabi tentang melihat hilal dipahami bersifat global, sementara secara ilmiah, perkembangan hisab astronomi memungkinkan prediksi posisi hilal secara akurat.

Ustadz Bimawan juga memaparkan perbedaan KHGT dengan sistem lokal seperti MABIMS, terutama pada aspek matla’, kriteria, dan hasil penanggalan yang berpotensi berbeda antarnegara.

Adapun tujuan utama KHGT adalah mewujudkan persatuan umat Islam, menghilangkan kebingungan dalam penentuan hari raya, serta memudahkan penyusunan kalender global untuk berbagai kebutuhan, termasuk pendidikan dan ekonomi syariah.

Meski demikian, penerapan KHGT masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya belum semua negara mengadopsi sistem ini, masih kuatnya otoritas lokal, serta perbedaan metode antara hisab dan rukyat.

“KHGT bukan mengganti syariat, melainkan metode untuk menerapkan syariat agar lebih maslahat dan menyatukan umat,” tegasnya.

Diketahui, Muhammadiyah telah mengadopsi KHGT sejak 2024 sebagai langkah menuju penyatuan kalender Islam global.

Kajian ditutup dengan salat Isya berjamaah. (Begug SW)

0 Komentar