![]() |
| Kajian Masjid Al-Falah Sukoharjo Bahas Kematian Sebelum dan Sesudah Balig, Jamaah Diajak Siapkan Amal |
Persoalan tersebut menjadi fokus kajian Rabu sore di Masjid Al-Falah, Madyorejo, Jetis, Sukoharjo, Rabu (14/10/2026). Mengusung tema “Kematian Sebelum Dewasa dan Kematian Sesudah Dewasa”, kajian yang disampaikan Ustadz Drs. H. Suroto itu mengajak jamaah merenungkan makna kehidupan, kematian, serta pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah SWT.
Dalam pemaparannya, Ustadz Suroto merujuk pada Surat Yunus ayat 55–56. Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa seluruh yang ada di langit dan bumi merupakan milik Allah, janji-Nya adalah benar, serta Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan manusia sebelum akhirnya mereka kembali kepada-Nya.
Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa kehidupan dan kematian sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT. Tidak ada manusia yang dapat memastikan kapan ajal akan menjemput, termasuk apakah seseorang meninggal ketika masih anak-anak atau setelah dewasa.
Belum balig, belum menanggung beban syariat secara penuh
Ustadz Suroto menjelaskan, dalam hukum Islam, anak yang meninggal sebelum mencapai usia balig belum berstatus mukalaf, yakni orang yang telah dibebani kewajiban syariat secara penuh.
Kondisi tersebut memiliki konsekuensi berbeda dengan orang dewasa yang telah balig. Anak-anak yang meninggal sebelum balig tidak dibebani pertanggungjawaban dosa sebagaimana orang yang telah memenuhi ketentuan sebagai mukalaf.
Dalam pandangan mayoritas ulama, anak-anak kaum muslimin yang meninggal sebelum balig berada dalam rahmat Allah SWT dan mendapatkan surga. Selain itu, anak yang wafat juga dapat menjadi sebab datangnya pahala dan syafaat bagi orang tuanya dengan izin Allah.
Pesan ini sekaligus menjadi penguat bagi keluarga yang kehilangan anak agar tetap bersabar dan menerima ketetapan Allah. Kehilangan memang menyisakan kesedihan, tetapi iman mengajarkan bahwa setiap peristiwa kehidupan berlangsung dalam pengetahuan dan kehendak-Nya.
Dewasa berarti tanggung jawab amal semakin nyata
Berbeda dengan anak-anak yang belum balig, seseorang yang telah mencapai balig memasuki fase pertanggungjawaban atas perbuatan sesuai ketentuan syariat. Setiap pilihan, tindakan, dan amanah yang dijalankan selama hidup menjadi bagian dari perjalanan amal yang kelak diperhitungkan di akhirat.
Karena itu, kematian bagi orang dewasa bukan sekadar berakhirnya kehidupan di dunia. Peristiwa tersebut menjadi pengingat tentang datangnya fase pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Ustadz Suroto mengaitkan hal tersebut dengan kandungan Surat Yunus ayat 55 tentang kepastian janji Allah. Keyakinan terhadap hari kebangkitan dan hisab semestinya mendorong umat Islam untuk memperbaiki perilaku, menjalankan kewajiban agama, serta memperbanyak amal saleh selama masih diberi kesempatan hidup.
Inti kajian tersebut menempatkan kematian sebagai momentum introspeksi. Manusia tidak memiliki kuasa untuk menentukan panjang pendeknya usia, tetapi dapat berikhtiar mengisi kehidupan dengan kebaikan dan tanggung jawab.
Masjid sebagai pusat pembinaan umat
Humas Masjid Al-Falah, Begug SW, menyampaikan bahwa kajian rutin Rabu sore tersebut mendapat sambutan antusias dari jamaah. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari lingkungan RT setempat, tetapi juga dari luar wilayah RT.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Masjid Al-Falah meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.
Melalui kajian rutin, masjid diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pembinaan akhlak, dan penguatan kehidupan sosial masyarakat.
Pesan yang mengemuka dalam kajian tersebut sederhana, tetapi mendasar: kematian dapat datang kapan saja, sedangkan kesempatan berbuat baik tidak berlangsung selamanya. Selama kehidupan masih dianugerahkan, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kembali kepada Allah SWT. (red)

0 Komentar