Kemarau Tak Bikin Lahan Mati, Petani Wonogiri Pilih Tembakau

Kemarau Tak Bikin Lahan Mati, Petani Wonogiri Pilih Tembakau (Dok. Sampoerna)
Wonogiri, mitrapolrinews.com – Musim kemarau dan keterbatasan air membuat sebagian lahan pertanian di Wonogiri sulit ditanami. Namun, kondisi itu tak membuat sejumlah petani berhenti menggarap lahan. Tembakau menjadi salah satu pilihan untuk menjaga lahan tetap produktif sekaligus memperoleh penghasilan.

Salah satunya Katino, 46, warga Eromoko. Sebelum menjadi petani tembakau, dia bekerja sebagai sopir truk. Ketertarikannya terhadap tembakau muncul setelah melihat seorang petani menjual hasil panen di sebuah gudang.

Sejak 2019, Katino mulai serius membudidayakan tembakau. Dia belajar dari petani lain dan kemudian mendapat pendampingan teknis melalui perusahaan pemasok Sampoerna, mulai pembibitan, pengelolaan lahan, pemupukan hingga perawatan tanaman.

“Yang awalnya tidak tahu apa-apa, sekarang jadi tahu,” kata Katino dalam siaran pers yang diterima pada Senin (21/9/2026).

Hasilnya mulai dirasakan sejak 2023. Pendapatan dari pertanian membuat Katino mampu membeli tambahan lahan. Kini dia mengelola sekitar 9.000 meter persegi lahan yang tersebar di tiga lokasi, ditambah satu lahan sewa dan beberapa tenaga buruh tani.

Pola tanam disesuaikan dengan musim. Ketika musim hujan, lahan dimanfaatkan untuk tanaman yang membutuhkan air lebih banyak. Saat kemarau, tembakau menjadi salah satu komoditas pilihan.

Cerita serupa dialami Purwanto, 34. Setelah sempat bekerja di perusahaan swasta di Jakarta, dia memilih pulang ke Wonogiri untuk menemani orangtuanya sekaligus menggarap lahan keluarga.

Kepulangannya bertepatan dengan musim kemarau. Melihat tetangga menanam tembakau, Purwanto ikut mencoba.

“Awalnya tidak banyak, hanya untuk belajar,” ujarnya.

Purwanto kemudian memperoleh penyuluhan dan pendampingan dari pembibitan hingga pascapanen. Dia juga menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) serta memperhatikan aspek kesehatan, keselamatan, dan perlindungan pekerja melalui Agricultural Labor Practices (ALP).

Bagi Purwanto, hasil tembakau bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Sebagian pendapatan disisihkan sebagai modal musim tanam berikutnya, termasuk untuk kebutuhan pupuk dan tanaman padi maupun tembakau.

“Sebagian hasilnya bisa kami sisihkan untuk modal musim tanam berikutnya,” katanya.

Dampak ekonomi juga dirasakan keluarga dan lingkungan sekitar. Rumah orangtuanya yang sebelumnya berdinding kayu kini telah berubah menjadi rumah tembok. Aktivitas pertanian juga ikut menggerakkan jasa lain, seperti angkutan hasil panen dan penyewaan kendaraan.

Bagi Katino dan Purwanto, kemarau bukan berarti lahan harus berhenti menghasilkan. Dengan memilih komoditas yang sesuai kondisi musim dan didukung pengetahuan budi daya, lahan tetap bisa produktif sekaligus menjadi sumber penghasilan bagi keluarga petani.

 

0 Komentar