Gerakan Subuh Jamaah Round Go to Masjid Sambangi Masjid An-Nur Jetis

Gerakan Subuh Jamaah Round Go to Masjid Sambangi Masjid An-Nur Jetis

Sukoharjo, mitrapolrinews.com — Gerakan membangun kedekatan dengan jamaah dan menghidupkan masjid terus dilakukan Muhammadiyah Sukoharjo. Melalui program Subuh Jamaah Round Go to Masjid, unsur pimpinan Muhammadiyah bersama sejumlah organisasi otonom dan komunitas mendatangi masjid-masjid di tingkat ranting. 

Kali ini, kegiatan digelar di Masjid An-Nur, Kampung Bangsan, Kelurahan Jetis, Sukoharjo, Minggu (20/9) pagi. Selain menjadi sarana silaturahmi, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan umat dan kepedulian sosial.

Kegiatan diikuti jamaah Masjid An-Nur, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jetis 1 dan Jetis 2. Hadir pula perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting serta Pembinaan Masjid (LPCRPM), Lembaga Dakwah Komunitas (LDK), BikersMu, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Ketua PDM Sukoharjo H. Djumari, S.Ag., M.Si., dalam tausiyahnya mengangkat tema “Kesalehan Sosial”. Menurutnya, keimanan tidak cukup hanya diwujudkan melalui ibadah ritual. Keimanan juga harus tercermin dalam kepedulian dan tindakan nyata kepada sesama.

“Kesalehan sosial merupakan wujud nyata dari keimanan seseorang yang tercermin melalui kepedulian, empati, dan tindakan baik kepada sesama manusia,” tuturnya.

Dia menjelaskan, konsep kesalehan sosial berkaitan erat dengan hubungan horizontal atau hablum minannas. Konsep tersebut melengkapi hubungan manusia dengan Alloh SWT atau hablum minallah.

Ibadah seperti salat, zakat, dan puasa, lanjutnya, semestinya melahirkan kepedulian sosial yang semakin kuat. Dengan demikian, kualitas ibadah tidak hanya terlihat dari hubungan seseorang dengan Alloh SWT, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Djumari juga menekankan tiga pilar perilaku yang perlu dibangun dalam kehidupan sehari-hari. Yakni kesalehan dalam berpikir, kesalehan dalam berucap, dan kesalehan dalam bertindak.

Menurut dia, ketiganya harus berjalan beriringan. Pikiran yang baik perlu diwujudkan melalui ucapan yang baik. Selanjutnya, ucapan tersebut harus dibuktikan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Dalam tausiyahnya, Djumari juga mengajak jamaah memaknai agama sebagai pedoman untuk menjalani kehidupan secara terarah. Ia menyampaikan pemaknaan populer bahwa agama memberikan keteraturan dalam kehidupan manusia.

“Kalau tidak beragama, hidupnya tidak teratur,” ujarnya.

Ia kemudian mengibaratkan kehidupan manusia seperti roda yang terus berputar. Ada masa seseorang berada di atas, tetapi ada pula saat harus melewati posisi di bawah.

Ketika berada di atas, manusia perlu bersyukur dan tidak sombong. Sebaliknya, ketika berada di bawah atau menghadapi kesulitan, agama menjadi pegangan agar tetap sabar, kuat, dan tidak kehilangan arah.

Djumari juga menyampaikan ungkapan bahwa “agama itu seribu nyawa” sebagai pesan agar manusia tidak mudah berputus asa. Menurutnya, kegagalan dalam satu rencana bukan berarti berakhirnya seluruh harapan.

“Kalau satu rencana gagal atau satu pintu rezeki tertutup, masih ada jalan lain dan pertolongan Tuhan yang luas,” jelasnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar umat tidak berhenti berikhtiar ketika menghadapi persoalan kehidupan. Selama iman dan keyakinan tetap terjaga, selalu ada alasan untuk bangkit dan melanjutkan perjuangan.

Program Subuh Jamaah Round Go to Masjid sendiri menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antara struktur Muhammadiyah dengan jamaah di tingkat akar rumput. Kunjungan langsung ke masjid juga membuka ruang komunikasi, silaturahmi, sekaligus penguatan gerakan dakwah di tingkat cabang dan ranting.

Kegiatan berlangsung lancar dan ditutup sekitar pukul 06.00 WIB. Setelah tausiyah dan rangkaian kegiatan selesai, peserta melanjutkan dengan sarapan bersama dalam suasana penuh keakraban. (Begug SW)

0 Komentar