![]() |
Bedah Buku “Badhutan Mojoreno” Angkat Kearifan Lokal dan Dorong Minat Baca Masyarakat Wonogiri |
Bedah buku yang diselenggarakan di salah satu ruang pertemuan Perpusda ini menghadirkan langsung sang penulis Kun Prastowo, panelis akademisi Dr. Muhammad Julijanto, dan dipandu oleh Duta Wisata Wonogiri, Amalia Putri. Menariknya, turut hadir pula pelaku seni Badhutan Mojoreno, Indarto, yang memberikan warna lokal khas dalam diskusi tersebut.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Asisten Sekda Kabupaten Wonogiri, Dra. Ristanti, M.M., yang dalam sambutannya menyoroti pentingnya peningkatan minat baca di tengah masyarakat.
“Membaca itu mengasyikkan; maka harus senantiasa diupayakan agar minat baca masyarakat terus meningkat. Melalui bedah buku Badhutan Mojoreno ini kita ambil ibrohnya, kita petik manfaatnya. Wonogiri telah menerapkan perpustakaan berbasis inklusi yang dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kemanfaatan perpustakaan bagi masyarakat,” ujar Ristanti.
Kepala Disarpus Wonogiri, Mawan Tri Hananto, M.Si., dalam laporan pembukaannya menegaskan bahwa bedah buku ini merupakan bagian dari komitmen Disarpus untuk meningkatkan budaya baca dan literasi lokal.
“Kami berupaya menumbuhkan literasi berbasis kearifan lokal untuk mendukung indeks perpustakaan daerah yang masih rendah. Salah satunya dengan terus menambah koleksi buku di Perpusda, yang saat ini belum mencapai dua kali lipat jumlah penduduk Wonogiri,” jelas Mawan.
Buku Badhutan Mojoreno sendiri mengisahkan perjuangan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa dalam melawan Kompeni. Dalam salah satu momen penting, dikisahkan bagaimana tarian badutan lucu yang dipertunjukkan Ki Guno Sumadyo mampu membuat Raden Mas Said “rena” (senang) di bawah pohon mojo, sehingga tempat itu kemudian dinamai Mojoreno.
Panelis Dr. Muhammad Julijanto menilai buku tersebut ditulis dengan struktur yang baik dan memiliki kekuatan pada narasi lokal yang diangkat.
“Buku ini telah memenuhi unsur orientasi, komplikasi, dan resolusi. Pemaknaan kembali atas cerita tutur yang menjadi ciri khas cerita rakyat disajikan dalam bentuk bahasa tulis yang lugas dan menarik,” ungkapnya.
Sementara itu, Kun Prastowo menuturkan bahwa karyanya adalah upaya mendokumentasikan serpihan-serpihan cerita rakyat Wonogiri yang masih berserak di masyarakat.
“Wilayah Wonogiri yang luas menyimpan banyak cerita yang layak diangkat untuk membentuk karakter masyarakat di tengah arus globalisasi. Buku ini diharapkan menjadi pemantik bagi penulis lain untuk menggali kekayaan cerita lokal,” ujar Kun.
Acara ini juga menyinggung nasib kesenian Badhutan Mojoreno yang kini mulai mengalami kemunduran. Oleh karena itu, berbagai pihak diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya pembinaan dan pelestarian seni tradisi agar tidak punah ditelan zaman.
Dengan mengangkat kearifan lokal melalui literasi, Disarpus Wonogiri berupaya menjadikan perpustakaan lebih dari sekadar tempat menyimpan buku, tetapi sebagai ruang hidup budaya dan pendidikan masyarakat.
0 Komentar