![]() |
Tradisi "Mangan Geden" Warga LDII Troketon Perkuat Kerukunan Pasca Sholat Idul Adha |
Acara yang diwarnai oleh kekhusyukan ibadah juga melibatkan tradisi "mangan geden" atau makan bersama usai sholat, yang telah menjadi bagian dari budaya dan keakraban warga LDII Troketon dengan masyarakat sekitar.
"Dengan membawa nasi bungkus, dikumpulkan menjadi satu, lalu dibagikan dan dimakan bersama-sama, ini adalah simbol dari kerukunan dan keakraban antara warga LDII dan tetangga sekitar," ungkap Sriwidodo, Dewan Penasehat PAC LDII Troketon.
Tradisi ini telah menjadi tradisi yang dinantikan oleh jamaah Masjid Nurul Huda Troketon. "Tradisi ini sudah berlangsung lama, terutama para ibu-ibu yang semangat dan kompak, sehingga tahun ini kami bisa kembali melaksanakan 'mangan geden'," tambahnya dengan senyum.
"Kelebihan dari tradisi ini adalah setelah sarapan bersama, kami bisa langsung ganti pakaian dan melanjutkan prosesi penyembelihan hewan kurban hingga selesai, sehingga semuanya bisa cepat pulang ke rumah masing-masing," jelas Sriwidodo.
Pada kesempatan ini, Masjid Nurul Huda Troketon berhasil menyelenggarakan penyembelihan 1 ekor sapi dan 3 ekor kambing. Daging kurban ini dibagikan kepada pejabat pemerintah, Kepala Desa, warga sekitar, tokoh masyarakat, dan tokoh agama.
"Tema Kurban LDII tahun ini adalah 'Berkurban Untuk Mewujudkan Ketakwaan dan Kepedulian Sosial'," papar Sartono, Ketua PAC LDII Troketon.
Masjid Nurul Huda Troketon sendiri telah berdiri puluhan tahun yang lalu dan baru-baru ini direnovasi total pada awal tahun 2020-an. Pada tanggal 19 September 2023, masjid ini diresmikan oleh Ketua MUI Kecamatan Pedan, H. Hadi Rosyidi, S.Ag.
Tradisi "mangan geden" ini menjadi bukti nyata bagaimana LDII Troketon selalu menjaga keharmonisan dan keakraban dengan masyarakat sekitar. Selain memperkuat rasa persaudaraan, tradisi ini juga menjadi sarana untuk berbagi dan saling membantu sesama.
0 Komentar